Langsung ke konten utama

Postingan

menemukan

Satu bulan lalu, referensi lagu yang ku dengarkan, mendadak berubah. Lagu-lagu yang membuatku berkata, "mengapa baru sekarang?" Itu lagu-lagu Hindia dan .feast, tetapi lebih tepat disebut sebagai karya dari Baskara Putra. Ketika mendengar lagu Hindia, aku seolah sedang dibela. Seperti ada seseorang yang siap berdiri di sampingmu dan terus menyemangati.  Melalui lagu-lagu .feast, aku seolah dibawa menuju perjalanan panjang. Menemukan, belajar, kemudian mengerti dan peduli. Keduanya sama-sama memberi pengalaman yang berbeda. Akan berbeda rasanya saat pertama kali mendengarkan, kemudian kedua kali ketika tahu apa latar belakang lagu tersebut, dan ketiga kali ketika mengerti bahwa lagu tersebut sangat luas pemaknaannya. Tingkatan yang ada memberi pengalaman mendengarkan yang beda pula efeknya. Bersama .feast, seolah kita sedang diberi suatu topik, kemudian kita bertugas mengulik lebih dalam. Bersama Baskara, aku merasa harus belajar lagi tentang banyak hal di dunia ini. Politik, ...

Euforia

Beberapa waktu terakhir, ada seseorang yang membuat bunga-bunga di hati bermunculan. Ia jadi panutan,  Referensi bacaan,  Sumber candaan.  Terlalu banyak waktu untuk mencintai orang lain Sampai lupa diri,  Lupa mencintai diri sendiri.  Beruntungnya ada orang yang menyadarkan,  Di tengah hiruk pikuk fanatisme pada yang jauh,  Seseorang lain mendekat, Ia yang tahu tetapi biasa saja,  Mengikuti tetapi tidak terlalu memahami.  Ternyata benar,  Dirinya biasa saja, Keren, iya. Tetapi biasa saja Cerdas, iya. Tetapi banyak juga yang cerdas seperti itu.  Cinta sudah membutakan bahwa dia sempurna.  Tentu tidak sesempurnya yang diidamkan, tetapi pasti cukup menjadi sosok ideal yang bisa dibayangkan.  Ah, iya.  Selama ini aku terlalu melebih-lebihkan semuanya.  Mengatakan bahwa ia luar biasa,  Seolah ia pusat semesta.  Sampai waktu ketika kau berkata,  Bahwa kau tak tertarik dengannya.  Kalimat itu yang m...

menghitung hari

Agustus berjalan lambat, sebelum tanggal 22 itu. Minggu pertama, "aku kasih hadiah apa ya?"  Minggu kedua, "tanggal 22 harus upload foto ig ah, biar sekalian perayaan." Minggu ketiga, "ucapannya pake foto ini aja deh." Kemudian sabtu datang dengan sangat anggun.  Selamat ulang tahun, bang Dzawin! Terlalu banyak yang ingin diucapkan, sampai akhirnya memutuskan untuk diam saja.  Hari itu aku melihat banyak sekali video atau fotomu berkeliaran di media sosial.  Banyaak sekali.  Sampai aku bosan... Mungkin, ini semua memang terlalu berlebihan ya... Tiba-tiba saja sudah tanggal 28. Kelewat jauh untuk mengungkapkan. Terlampau jauh untuk mengucapkan. Sampai kemudian sadar,  Ulang tahun, menjadi momen paling menyebalkan. Sama sekali tidak istimewa. 

terima kasih,

Terima kasih, bang.  Kuucap itu seolah benar-benar menghadapimu. Tentu tak sepenuhnya karenamu,  Mungkin hanya sebagian kecil.  Tapi, sungguh, sedikit banyak semuanya terjadi karena aku terinspirasi olehmu.  Ketika sore kemarin berlalu, Itu berarti ada satu langkahku menuju kamu. Kau tau? Alasan untuk apa-apa yang kulakukan sedikit banyak adalah kamu. Terima kasih, bang.  Aku seolah mendengar kalimat 'sama-sama' dari mulutmu. 20 Juli 2020

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

cita-cita sederhana

2in. Terdengar sederhana sekali, ketemu bang Dzawin, ngopi bareng. Tapi ada makna yang tersirat.  Aku, buat ketemu bang Dzawin gabisa tiba-tiba ketemu. Aku perlu menjadi mengagumkan terlebih dahulu. Karena apa? Bang Dzawin belum kenal aku. Maka sebelum semua terjadi, langkah pertama adalah memperkenalkan diri. Dengan catatan, dengan cara yang elegan. Aku ingin menjadi penulis dulu, seenggaknya nulis 1 buku. Kemudian bisa menginisiasi suatu program di desa. Untuk hal itu, udah ada gambaran sih,  sepertinya terkait literasi dan kesehatan anak-anak. Pengen buat perpus juga. Dan yang paling penting, harus menjadi intelektual muslim terlebih dahulu. Terdengar sangat rumit. Padahal kalau mau ketemu mah tinggal ketemu Aa. Sayangnya butuh duit banyak. Tapi terlepas dari itu, ngopi sama bang Dzawin sebenarnya bukan sekadar ngopi. Harusnya bisa jadi sarana mendekatkan hati, bertukar pikiran, dan menghidupkan pemikiran. Itu sebabnya aku harus banyak belajar terlebih dahulu....