Langsung ke konten utama

cita-cita sederhana

2in.
Terdengar sederhana sekali, ketemu bang Dzawin, ngopi bareng. Tapi ada makna yang tersirat. 
Aku, buat ketemu bang Dzawin gabisa tiba-tiba ketemu. Aku perlu menjadi mengagumkan terlebih dahulu.
Karena apa? Bang Dzawin belum kenal aku. Maka sebelum semua terjadi, langkah pertama adalah memperkenalkan diri. Dengan catatan, dengan cara yang elegan.

Aku ingin menjadi penulis dulu, seenggaknya nulis 1 buku. Kemudian bisa menginisiasi suatu program di desa. Untuk hal itu, udah ada gambaran sih,  sepertinya terkait literasi dan kesehatan anak-anak. Pengen buat perpus juga. Dan yang paling penting, harus menjadi intelektual muslim terlebih dahulu.
Terdengar sangat rumit. Padahal kalau mau ketemu mah tinggal ketemu Aa. Sayangnya butuh duit banyak.

Tapi terlepas dari itu, ngopi sama bang Dzawin sebenarnya bukan sekadar ngopi. Harusnya bisa jadi sarana mendekatkan hati, bertukar pikiran, dan menghidupkan pemikiran. Itu sebabnya aku harus banyak belajar terlebih dahulu. 

Masih banyak sekali yang harus dieksekusi, sebelum temu itu terjadi 💕

12.51
Randu, 16 Juni 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.