Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Potongan

#11

"Bucin, Bucin!" teriak seseorang Sudah macam maling rupanya, para pecinta yang takut alpa ia lupa, cinta bukan tentang raja dan kisah budaknya Ini cerita nyata, tentang fana yang membara.

bersama Kesendirian

Pada akhirnya dan kenyataannya, Manusia harus mampu bertahan di antara kesendirian Melawan kesendirian itu sendiri Bukan menunggu ada yang menemani Kawan, yang disampingmu itu kadang harus pergi, Dalam dekat atau jauh, Dalam lama atau sebentar, Dalam siapa yang akan pamit terlebih dahulu. Ketahuilah kamu hidup bersama kesendirian yang menemani Kadang sendiri melemahkanmu, Merenggut separuh kekuatan untuk bangkit, Menghapus kebahagiaan, Lalu menyayat luka baru untuk dikasihani. Kesendirian itu selalu bersamamu, Sekalipun ada ia di sampingmu Sendiri bukan berarti sepi. Karena sepi tak selalu tertarik pada yang single, Kadang ia hadir pada mereka yang sudah menjalin hubungan, Menjadi orang ketiga lalu mengacaukan segalanya. Belajarlah dari kesendirian, Ketika sendiri kau lemah? Bentuk kamu menjadi kekuatan yang menopang! Yang tak akan pernah membiarkan sendiri mengusik kebersamaanmu dengan kekuatan. Bangkit, Menari, Atau lak...

#10

Selamat untuk kepergiannya. Karena kepemilikanmu hanya mengekangnya. Selamat atas kesendirianmu. Melepas jerat disekeliling hatimu. Tidakkah kau ingin menyelamatiku? Aku yang boleh berharap lagi padamu.

#4

Pada semua noktah yang aku tebar. Jalanan menuju hatimu semakin menyeramkan. Memaksa melupa, atau mengingat untuk sebuah luka. Kamu ada di mana - mana, Bersamaan dengan refleksku yang tak lagi tertahan. Sudah! Bukan nyaris lagi. Maka aku jatuh, Bedebam di kelopak matamu. Berharap engkau tahu.

Italic Font, underlined : Love

"Rasionalku terbang entah kemana, Atau bahkan luntur diguyur hujan." Dari Solo, untukmu, yang tercinta. Teruntuk ayah, sebagai lelaki pertama yang telah membuat aku jatuh cinta, Terima kasih untuk teladan yang benar. Biarkan aku jatuh cinta, pada lelaki lain. Tenang saja, aku tak akan melupakan engkau, pun jika ia lebih hebat, maka engkaulah yang menjadi patokan, bahwa ia lelaki yang pantas untuk menjaga putri bungsumu. pun jika ia punya lebih banyak kelemahan daripada engkau, tak apa, selagi engkau ada, mungkin ada saatnya kau juga perlu membimbing ia, anakmu yang ke sekian, anak lelakimu.