Langsung ke konten utama

bersama Kesendirian



Pada akhirnya dan kenyataannya,
Manusia harus mampu bertahan di antara kesendirian
Melawan kesendirian itu sendiri
Bukan menunggu ada yang menemani

Kawan, yang disampingmu itu kadang harus pergi,
Dalam dekat atau jauh,
Dalam lama atau sebentar,
Dalam siapa yang akan pamit terlebih dahulu.

Ketahuilah kamu hidup bersama kesendirian yang menemani
Kadang sendiri melemahkanmu,
Merenggut separuh kekuatan untuk bangkit,
Menghapus kebahagiaan,
Lalu menyayat luka baru untuk dikasihani.

Kesendirian itu selalu bersamamu,
Sekalipun ada ia di sampingmu
Sendiri bukan berarti sepi.
Karena sepi tak selalu tertarik pada yang single,
Kadang ia hadir pada mereka yang sudah menjalin hubungan,
Menjadi orang ketiga lalu mengacaukan segalanya.

Belajarlah dari kesendirian,
Ketika sendiri kau lemah?
Bentuk kamu menjadi kekuatan yang menopang!
Yang tak akan pernah membiarkan sendiri mengusik kebersamaanmu dengan kekuatan.
Bangkit,
Menari,
Atau lakukan apa saja.
Sendiri itu selalu bersamamu,
Saat sepi ataupun ramai

Kekuatan itu sesekali meninggalkanmu,
Ajak ia kembali,
Sertai ia yang melemah dan nyaris mati
Ajak ia bahwa selalu ada alasan untuk bersama sekalipun sepi dan sendu.
Beritahu ia bahwa sendiri itu berat,
Ajak ia untuk menemani,
Bangkit bersamamu.
Katakan padanya bahwa kamu rindu,
Rindu akan kekuatan.....


ditulis dengan pikiran
ngaco,
tanpa editing,
bahkan belum pernah
dibaca ulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.