Langsung ke konten utama

Putus

Lupa.
Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita?
Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun?
Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro?
Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu?
Kamu jahat!
Kau tahu itu.
Kenapa kamu pergi?
Aku takut melukaimu,
Sebab, katamu aku jahat.
Bodoh!
Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik.
Keras kepala!
Sepertinya itu juga.
Aku mau putus, ucapmu.
Baiklah.
Kau yang memutuskanku.
 Kamu jahat!
Aku tahu, 
Kau sudah mengatakan itu tadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bersama Kesendirian

Pada akhirnya dan kenyataannya, Manusia harus mampu bertahan di antara kesendirian Melawan kesendirian itu sendiri Bukan menunggu ada yang menemani Kawan, yang disampingmu itu kadang harus pergi, Dalam dekat atau jauh, Dalam lama atau sebentar, Dalam siapa yang akan pamit terlebih dahulu. Ketahuilah kamu hidup bersama kesendirian yang menemani Kadang sendiri melemahkanmu, Merenggut separuh kekuatan untuk bangkit, Menghapus kebahagiaan, Lalu menyayat luka baru untuk dikasihani. Kesendirian itu selalu bersamamu, Sekalipun ada ia di sampingmu Sendiri bukan berarti sepi. Karena sepi tak selalu tertarik pada yang single, Kadang ia hadir pada mereka yang sudah menjalin hubungan, Menjadi orang ketiga lalu mengacaukan segalanya. Belajarlah dari kesendirian, Ketika sendiri kau lemah? Bentuk kamu menjadi kekuatan yang menopang! Yang tak akan pernah membiarkan sendiri mengusik kebersamaanmu dengan kekuatan. Bangkit, Menari, Atau lak...

terima kasih,

Terima kasih, bang.  Kuucap itu seolah benar-benar menghadapimu. Tentu tak sepenuhnya karenamu,  Mungkin hanya sebagian kecil.  Tapi, sungguh, sedikit banyak semuanya terjadi karena aku terinspirasi olehmu.  Ketika sore kemarin berlalu, Itu berarti ada satu langkahku menuju kamu. Kau tau? Alasan untuk apa-apa yang kulakukan sedikit banyak adalah kamu. Terima kasih, bang.  Aku seolah mendengar kalimat 'sama-sama' dari mulutmu. 20 Juli 2020