Langsung ke konten utama

Euforia

Beberapa waktu terakhir, ada seseorang yang membuat bunga-bunga di hati bermunculan.
Ia jadi panutan, 
Referensi bacaan, 
Sumber candaan. 

Terlalu banyak waktu untuk mencintai orang lain
Sampai lupa diri, 
Lupa mencintai diri sendiri. 

Beruntungnya ada orang yang menyadarkan, 
Di tengah hiruk pikuk fanatisme pada yang jauh, 
Seseorang lain mendekat,
Ia yang tahu tetapi biasa saja, 
Mengikuti tetapi tidak terlalu memahami. 
Ternyata benar, 
Dirinya biasa saja,
Keren, iya. Tetapi biasa saja
Cerdas, iya. Tetapi banyak juga yang cerdas seperti itu. 
Cinta sudah membutakan bahwa dia sempurna. 
Tentu tidak sesempurnya yang diidamkan, tetapi pasti cukup menjadi sosok ideal yang bisa dibayangkan. 

Ah, iya. 
Selama ini aku terlalu melebih-lebihkan semuanya. 
Mengatakan bahwa ia luar biasa, 
Seolah ia pusat semesta. 
Sampai waktu ketika kau berkata, 
Bahwa kau tak tertarik dengannya. 

Kalimat itu yang membuatku berpikir, 
Apa yang membuat ia menarik? 
Ah, sepertinya memang biasa saja
Tidak sekeren ekspektasi di kepala. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bersama Kesendirian

Pada akhirnya dan kenyataannya, Manusia harus mampu bertahan di antara kesendirian Melawan kesendirian itu sendiri Bukan menunggu ada yang menemani Kawan, yang disampingmu itu kadang harus pergi, Dalam dekat atau jauh, Dalam lama atau sebentar, Dalam siapa yang akan pamit terlebih dahulu. Ketahuilah kamu hidup bersama kesendirian yang menemani Kadang sendiri melemahkanmu, Merenggut separuh kekuatan untuk bangkit, Menghapus kebahagiaan, Lalu menyayat luka baru untuk dikasihani. Kesendirian itu selalu bersamamu, Sekalipun ada ia di sampingmu Sendiri bukan berarti sepi. Karena sepi tak selalu tertarik pada yang single, Kadang ia hadir pada mereka yang sudah menjalin hubungan, Menjadi orang ketiga lalu mengacaukan segalanya. Belajarlah dari kesendirian, Ketika sendiri kau lemah? Bentuk kamu menjadi kekuatan yang menopang! Yang tak akan pernah membiarkan sendiri mengusik kebersamaanmu dengan kekuatan. Bangkit, Menari, Atau lak...

terima kasih,

Terima kasih, bang.  Kuucap itu seolah benar-benar menghadapimu. Tentu tak sepenuhnya karenamu,  Mungkin hanya sebagian kecil.  Tapi, sungguh, sedikit banyak semuanya terjadi karena aku terinspirasi olehmu.  Ketika sore kemarin berlalu, Itu berarti ada satu langkahku menuju kamu. Kau tau? Alasan untuk apa-apa yang kulakukan sedikit banyak adalah kamu. Terima kasih, bang.  Aku seolah mendengar kalimat 'sama-sama' dari mulutmu. 20 Juli 2020