Langsung ke konten utama

Beberapa yang perlu diingat


Kata arie je jangan mengharapkan yang tidak diusahakan, karena kenyataan ada untuk digapai bukan diangan.
Maka aku tak akan membiarkan Jepang, Thailand, New Zealand, Singapura, Malaysia, Arab Saudi, dan negara-negara lainnya hanya jadi angan. Biar kuinjakkan kakiku di sana!
Caranya? Bisa karena lomba, duit sendiri, atau terserah Allah bagaimana maunya. Pasti ada jalan.
Termasuk Dzawin.
Target 2020 minimal ketemu Dzawin Nur Ikram. Yang penting lihat secara langsung, nggak kudu foto bareng, nggak kudu minta tanda tangan, nggak kudu nyapa. Cukup liat secara langsung, dalam jarak beberapa meter. Aamiin ya Allah.
Caranya? Ya bisa karna nonton tour stand up dia, apa aja dah. Apa aja.
Terus pengen ke cafe Senja & Pagi.
Pengen pergi ke Perpustakaan Nasional juga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.