Langsung ke konten utama

7 Days Writing Challenge - Day 6

Lelaki baik untuk wanita baik.

Tapi rumus jodoh itu rumit dan nggak bisa  dimengerti, tapi bisa kita pahami.

Aku tak benar - benar punya alasan bahwa aku pantas memiliki pasangan yang baik. Tapi kita harus peercaya bahwa itulah yang terbaik. Ia yang bisa membawaku ke surga ketika bersamanya .

Alasan pertama, aku adalah tipikal orang yang setia. Walau mungkin setia dan sulit move on itu bedanya tipis. Ya nggak sih?

Alasan kedua, aku ini perhatian (tapi cuma sama orang - orang yang memang aku sayang). Untuk kalian yang mungkin baru mengenalku, mungkin yang ada di pikiran kalian adalah aku ini nggak peka, nggak peduli sekitar, atau cuek apalah. Hei! Tapi tunggu dulu, kamu hanya butuh waktu untuk melihat sisi peka-ku. Mau coba?

Alasan ketiga. Aku ini pecicilan kalau sama yang udah dikenal. Jadi aku nggak akan pecicilan sama sembarang orang. Ingat itu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.