Langsung ke konten utama

7 Days Writing Challenge - Day 5

.
Ada pertanyaan yang harus ku jawab. Yaitu; Siapa yang sangat ingin kamu temui dalam waktu dekat ini?

Beruntung sekali orang - orang yang aku sayang, ada di sini. Jadi kalau ditanya siapa yang ingin aku temui dalam waktu dekat ini, aku pasti bingung. Siapa yang benar - benar pantas untuk dirindukan?
Tapi kalau boleh, aku ingin bertemu dengan semua keluarga besarku. Semuanya hadir tanpa terkecuali.

Ini yang berat kan?







Sebenarnya aku sedang rindu seseorang, seorang lelaki. Tapi aku berfikir, apa waktunya tepat untuk bertemu dalam waktu dekat? Lantas kalau kita bertemu kita mau apa? Juga tempat apa yang sangat cocok? Ah, semua pertanyaan itu sekarang (atau bahkan selalu) bersarang di otakku.

Aku memilih mengendapkan lagi rinduku, biarkan seperti ini saja. Jangan bertemu dulu.

Dan, apa lantas aku gagal dalam pertanyaan ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.