Langsung ke konten utama

2 Nyawa

Aku jatuh. Pada masa lalu yang berembun.
Apa aku hina? Karena mendua pada insan?
Bukan aku tak mencegah.
Sudah, aku bahkan tak mendatangi keramaian. Berharap agar ini tak muncul lagi ke permukaan.
Tapi tetap saja.
Maaf.
Aku menangis karena malu pada diriku. Yang mudah sekali jatuh pada keduamu. Esok lusa mungkin jadi 3 dan seterusnya.
Aku menangis karena bingung, kepada siapa seharusnya aku memuja. Aku mudah sekali mencinta, dan sulit sekali untuk lupa.
Mungkin aku terbawa sekte menolak lupa olehmu. Karena aku cinta pada sang kedua.
Tapi aku kembali mengingat, bahwa yang kedua pernah jadi yang pertama.
Dulu, dahulu sekali.
Sekarang aku punya pratamaku sendiri. Yang namanya bukan lagi kamu. Ia yang sekarang menjadi prioritasku
Maafkan aku, sang prioritasku. Maaf untuk aku yang kini mendatangi masa laluku.
Dan maaf untuk egoisku yang masih tetap merengkuhmu.
Dua, aku ingat sekali. Aku menolak lupa tentang hal itu.
Tentang aku yang terlalu pagi mengenalmu. Dan terlalu pagi mengekspresikan rasaku. Aku bahkan mengenal kamu yang belum mampu memainkan gitar itu.
Lantas aku terluka ketika kamu mampu memetik dawai akustik diselingi lirik romantis.
Dan salahku pergi, tanpa mengetahui bahwa kamu gitaris yang sebenarnya aku cari.
Aku menolak lupa, pada kisah keduanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.