Langsung ke konten utama

Sendiri

Aku butuh waktu dengan diriku. Aku butuh jeda agar aku bisa berunding empat mata dengan jiwaku. Mengenai aku yang sudah terlampau jauh berubah. Mengenai kecewaku yang membuat aku kecewa kenapa aku harus kecewa dengan hal semacam itu.
Aku butuh waktu. Dan akhir - akhir ini waktuku tersita olehmu. Waktuku banyak digunakan untuk memikirkan kamu. Untuk itu, bolehkah kulupakan kamu? Aku hanya perlu waktu. Lagipula, memang apa bedanya aku yang memikirkanmu dengan aku yang tidak mengingatmu? Kamu bahkan tak bisa menjadi milikku. Sekarang.
Tapi ingatlah, akan ada hari dimana aku mengingatmu lagi. Esok atau mungkin lusa. Malam ini aku berkata seperti ini. Besok malam mungkin juga akan tetap seperti itu kalimatnya. Mungkin. Begitu seterusnya. Sampai aku selesai merajut lagi mimpiku.
Termasuk mimpi untuk bersanding denganmu, akan kujahit lagi. Kainnya sudah robek, harus ditambal dan dibenahi.
Salam,
Ra.
Yang akan merindukanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

bersama Kesendirian

Pada akhirnya dan kenyataannya, Manusia harus mampu bertahan di antara kesendirian Melawan kesendirian itu sendiri Bukan menunggu ada yang menemani Kawan, yang disampingmu itu kadang harus pergi, Dalam dekat atau jauh, Dalam lama atau sebentar, Dalam siapa yang akan pamit terlebih dahulu. Ketahuilah kamu hidup bersama kesendirian yang menemani Kadang sendiri melemahkanmu, Merenggut separuh kekuatan untuk bangkit, Menghapus kebahagiaan, Lalu menyayat luka baru untuk dikasihani. Kesendirian itu selalu bersamamu, Sekalipun ada ia di sampingmu Sendiri bukan berarti sepi. Karena sepi tak selalu tertarik pada yang single, Kadang ia hadir pada mereka yang sudah menjalin hubungan, Menjadi orang ketiga lalu mengacaukan segalanya. Belajarlah dari kesendirian, Ketika sendiri kau lemah? Bentuk kamu menjadi kekuatan yang menopang! Yang tak akan pernah membiarkan sendiri mengusik kebersamaanmu dengan kekuatan. Bangkit, Menari, Atau lak...