Langsung ke konten utama

Semudah itu

Aku merasa ada yang aneh.
Apa aku harus jadi seperti Riani? Saat Zafran tahu bagaimana perasaanya? Ketika tatapan itu bertemu, aku harus berpaling lantas berfikir sejenak lalu menoleh lagi sambil tersenyum? Aku tak pandai tersenyum. Aku adalah manusia yang ketika tatapan itu bertemu aku berpaling, dan tak menoleh lagi. Aku berfikir, tapi tentang senyuman dan raut wajahnya.
Kawanku berkata, "jangan sering mikirin doi, nanti bosen loh".

Aku berkata ia menyenangkan, itu berarti ada 2 kemungkinan. Dia yang memang seperti itu, atau aku yang tak mudah bosan. Telaah dulu, sebelum berpendapat. Karna memang tergantung faktor internal dan eksternal.
Ketika mengingat ia, entah mengapa aku merasa cinta ini tumbuh. Aku juga tak tahu pasti, tapi kupikir memang seperti itu. Dengan aku berfikir, secara tidak langsung aku membangun karakternya di dekatku, di sampingku.
Semudah itu membuat kamu ada di sisi ku....
20102016/22.44 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melempar; terlempar

Siang yang diselingi angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri jalan setapak, kemudian menaiki anak tangga. Aku sampai di atas, bersamaan pula dengan kamu yang keluar ruang laboratorium. Masih dengan kacamata minus dan jaket parka seperti biasanya. Itu pertama. Kedua kali di hari yang sama. Saat itu aku sedang duduk santai di ruang lab, bercanda dengan kawan. Kamu, memasuki ruangan, menjemput ransel di kursi belakang. Kemudian, ketiga kali. Aku hendak keluar lab, menyusuri lorong, ternyata kamu di sana. Berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. "Permisi, Mas," ucapku. Di lain hari, aku berjumpa denganmu yang memakai setelah rapi. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasinya. Sewaktu aku lewat, kamu merubah posisi dari jongkok jadi berdiri. "Permisi, Mas." Selalu itu ucapku. "Permisi," ucap seseorang yang melewatiku. Aku tersadar. Memandang lagi lurus ke depan. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam, lengkap dengan dasi (kali ini dasi k...

Putus

Lupa. Sudah sampai mana cerita Jogja-jogja kita? Apakah tentang pertemuan di mini market dekat stasiun? Atau sudah sampai pada obrolan makan siang di trotoar malioboro? Atau malah sampai pada senja ketiga ketika aku memutuskan meninggalkanmu? Kamu jahat! Kau tahu itu. Kenapa kamu pergi? Aku takut melukaimu, Sebab, katamu aku jahat. Bodoh! Apalagi itu! Kau memang mengenalku dengan baik. Keras kepala! Sepertinya itu juga. Aku mau putus, ucapmu. Baiklah. Kau yang memutuskanku.  Kamu jahat! Aku tahu,  Kau sudah mengatakan itu tadi.