Langsung ke konten utama

Postingan

2018 dan Kenangan yang Mengikutinya

Awal dan akhir setiap orang pasti beda-beda. Semacam manusia yang diciptakan dengan timing yang gak mungkin sama. Ketika 2018 merupakan awal bagi sebagian orang di belahan bumi ini, aku justru masih berproses untuk mengakhiri. Tanggal 22 Januari aku masih mempersiapkan diri menuju Solo, dengan harapan yang baru. Ketika aku ragu hendak berangkat atau tidak, ibuku tak pernah memaksa, ia memberi pandangan kalau itu pilihanku sendiri. Dan aku memutuskan untuk tetap berangkat, meski libur kuliah masih amat panjang. Tepat ketika tanggal 3 Februari, kisah baru di mulai. Ini semacap sebuah awal, juga sebagai akhir dari masa lalu yang buruk. Aku tetap tak bisa menjamin masa depanku akan bagaimana nantinya, bahkan sampai sekarang aku tak pernah yakin. Tapi sejak semua itu, aku melangkah dengan banyak orang, dan semua terasa benar. Hingga pada akhirnya serangkaian acara itu disudahi, kembali ke kos dengan langkah baru dan nama baru. “IMMawati” begitu katanya. Nama mistis yang sejatinya ma...

Jangan berlalu begitu saja

Mengapa cepat sekali berlalu? Belum juga terasa, belum juga terlaksana. Jangan berlalu begitu cepat, Jangan berlalu begitu saja. Rindu sudah tiba, sesaat setelah ia berpamitan. Rindu sudah tiba, sepersekian detik bersamaan dengan kata selamat tinggalmu

Maaf.

Teruntuk yang merasa rindu, Apa pernah berusaha untuk bertemu? Doa saja tak apa, Berusaha juga perlu. Tapi apa? Berusaha pulang dengan sebaik-baiknya. Jangan katakan rindu, jika tak pernah berusaha untuk bertemu. Jangan bilang tak punya waktu, jika kau tak segera selesaikan tugasmu. Bul*sh*t! Tak perlu kau katakan jenuh, kalau kamu masih berleha-leha di ruang hampa, tanpa keluarga. Kamu, iya kamu, surat ini untuk kamu, kamu yang menulis untuk dirimu sendiri. Salam

Assalamu'alaikum

Teruntuk yang mengapa  aku sedalam ini berpikir akhi yang di seberang sana, aku bukan ukhty Rasanya ganjil sekali dipanggil seperti itu. Pertama kali dari ikhwan, dan itu membuatku benar-benar merasa jauh dari kata itu Secara bahasa aku masih salah, bisa jadi bahasa mana saja Indonesia, aku bukan wanita seperti kebanyakan pria dambakan Inggris, girl bahkan aku bukan lagi gadis unyu, sudah tua termasuknya.

bersama Kesendirian

Pada akhirnya dan kenyataannya, Manusia harus mampu bertahan di antara kesendirian Melawan kesendirian itu sendiri Bukan menunggu ada yang menemani Kawan, yang disampingmu itu kadang harus pergi, Dalam dekat atau jauh, Dalam lama atau sebentar, Dalam siapa yang akan pamit terlebih dahulu. Ketahuilah kamu hidup bersama kesendirian yang menemani Kadang sendiri melemahkanmu, Merenggut separuh kekuatan untuk bangkit, Menghapus kebahagiaan, Lalu menyayat luka baru untuk dikasihani. Kesendirian itu selalu bersamamu, Sekalipun ada ia di sampingmu Sendiri bukan berarti sepi. Karena sepi tak selalu tertarik pada yang single, Kadang ia hadir pada mereka yang sudah menjalin hubungan, Menjadi orang ketiga lalu mengacaukan segalanya. Belajarlah dari kesendirian, Ketika sendiri kau lemah? Bentuk kamu menjadi kekuatan yang menopang! Yang tak akan pernah membiarkan sendiri mengusik kebersamaanmu dengan kekuatan. Bangkit, Menari, Atau lak...

Jogja dan Rindu

Ketika sampai Jogja, seseorang pernah meramal, mengucap padaku, Bahwa suatu saat nanti ketika aku benar rindu, aku akan menangis, Aku mengelak namun hatiku mengiyakan, Aku malah mengoloknya, bahwa itu jadi satu pengalaman dalam hidupnya, dan ia tak menampiknya. Sekarang, tak perlu sampai Jogja. Rindu tetap rindu, Biarkan menangis, Tak harus sampai Jogja --21.16 - 12.11.2017