Langsung ke konten utama

Postingan

Assalamu'alaikum

Teruntuk yang mengapa  aku sedalam ini berpikir akhi yang di seberang sana, aku bukan ukhty Rasanya ganjil sekali dipanggil seperti itu. Pertama kali dari ikhwan, dan itu membuatku benar-benar merasa jauh dari kata itu Secara bahasa aku masih salah, bisa jadi bahasa mana saja Indonesia, aku bukan wanita seperti kebanyakan pria dambakan Inggris, girl bahkan aku bukan lagi gadis unyu, sudah tua termasuknya.

bersama Kesendirian

Pada akhirnya dan kenyataannya, Manusia harus mampu bertahan di antara kesendirian Melawan kesendirian itu sendiri Bukan menunggu ada yang menemani Kawan, yang disampingmu itu kadang harus pergi, Dalam dekat atau jauh, Dalam lama atau sebentar, Dalam siapa yang akan pamit terlebih dahulu. Ketahuilah kamu hidup bersama kesendirian yang menemani Kadang sendiri melemahkanmu, Merenggut separuh kekuatan untuk bangkit, Menghapus kebahagiaan, Lalu menyayat luka baru untuk dikasihani. Kesendirian itu selalu bersamamu, Sekalipun ada ia di sampingmu Sendiri bukan berarti sepi. Karena sepi tak selalu tertarik pada yang single, Kadang ia hadir pada mereka yang sudah menjalin hubungan, Menjadi orang ketiga lalu mengacaukan segalanya. Belajarlah dari kesendirian, Ketika sendiri kau lemah? Bentuk kamu menjadi kekuatan yang menopang! Yang tak akan pernah membiarkan sendiri mengusik kebersamaanmu dengan kekuatan. Bangkit, Menari, Atau lak...

Jogja dan Rindu

Ketika sampai Jogja, seseorang pernah meramal, mengucap padaku, Bahwa suatu saat nanti ketika aku benar rindu, aku akan menangis, Aku mengelak namun hatiku mengiyakan, Aku malah mengoloknya, bahwa itu jadi satu pengalaman dalam hidupnya, dan ia tak menampiknya. Sekarang, tak perlu sampai Jogja. Rindu tetap rindu, Biarkan menangis, Tak harus sampai Jogja --21.16 - 12.11.2017

Hujan

Kepergianku yang sudah sedari seminggu yang lalu. Tanpa pulang, berharap tak rindu. Seseorang meramalku akan menangis. Tapi hujanku di kota ini belum turun. Rintik di Agustus sudah hadir. Pertama sebelum senja. Terawangannya salah, sudah patah. Heh? !Who do u think u're, boy? Belum saatnya... 07082017 pada 20.28

#10

Selamat untuk kepergiannya. Karena kepemilikanmu hanya mengekangnya. Selamat atas kesendirianmu. Melepas jerat disekeliling hatimu. Tidakkah kau ingin menyelamatiku? Aku yang boleh berharap lagi padamu.

Apa Kabar?

An, Bagaimana kabarmu? Kamu yang dahulu aku puja, sekarang? Jangan tanya. Aku tak tahu. Detik ini aku hanya sedang bimbang, tak mengerti akan maunya hati, aneh sekali. Semua terjadi dari kemarin. Ketika aku berusaha berdamai dengan masa lalu -- tentang kamu tentunya, ada fakta yang benar - benar membuat aku benci dengan diriku sendiri. Lain dari biasanya; aku yang selalu pergi ketakutan menghadapi kenyataan yang ada, dan memilih berdiam diri menjauh dari dunia, hari itu entah karena apa aku (merasa) siap untuk segala kemungkinan. Aku melangkah dengan yakin; meninggalkan ia, dan mendatangi kamu lagi. Semuanya berjalan begitu sepat sampai aku tak punya waktu menyadarkan diri. Siapa yang menyangka kalau makhluk yang tinggi  seperti kamu akan membalas pelukanku? Fakta yang seperti itu nyatanya belum siap aku terima. Atau memang aku belum siap menerima segala keputusan? Tapi yang menyibukkan pikiranku bukan itu, melainkan semua kesimpulanku yang salah. Ada kilas balik...